Rabu, 26 Maret 2014

As Sweet As...




Malam yang dingin
Jalan raya Washington nampak lengah malam itu,
Kendaraan-kendaraan yang biasanya berlalu lalang seakan enggan melaju ditengah cuaca musim dingin yang membekukan itu,
Namun tidak dengan gadis  manis ini, seorang gadis keturunan Jepang-Inggris, berprawakan tinggi dengan rambut hitam, hidung mancung, tinggi dan mata berwarna hazel namanya Ariana Hiroyuki, ia berjalan menelusuri dinginnya musim dingin saat itu. Gadis bermantel merah ini berjalan sendiri, dengan tangan mengepal yang tersembunyi di balik saku mantel, berjalan seolah tanpa arah kemana ia akan pergi. Syaraf di kaki seakan tak berfungsi oleh dinginnya malam itu. Sepatu, baju dan celana yang berlapis-lapispun seakan tak berguna, dingin malam itu  sungguh tak tertahankan. Tulangnya seakan rapuh oleh dinginnya malam. Dadanya sesak, oksigen seakan enggan menghampiri paru-parunya, tak tertahankan, kepalanyapun mulai berat saat ia memaksakan langkah kakinya untuk terus maju, penglihatannya mulai gelap, gelap dan semakin gelap. Hingga ia tak sadarkan diri.
****
Ariana mulai membuka matanya perlahan, kepalanya masih terasa berat, ia berusaha untuk bangun tapi tak berdaya. Perlahan ia sadar ia sedang berada di suatu tempat yang asing. Ruangan itu hangat, terlihat cerobong asap dihadapannya, di sisi lain terdengar suara beberapa orang sedang asyik berbicang hangat disana. Ia melihat disekelilingnya memastikan apa ia benar-benar tidak mengenal tempat itu. Tidak, aku tidak tahu tempat ini , ia memastikan sekali lagi tapi jawabannya tetap tidak.
Tak lama seorang laki-laki bertubuh jangkung, dengan rambut berwarna Golden Brown datang menghampiri dirinya yang sedang berbaring di sebuah sofa di depan cerobong asap dengan secangkir coklat hangat ditangannya, sadar bahwa seorang gadis yang ditolongnya itu bangun, ia segera meletakkan cangkir itu di sebuah meja kayu klasik dekat sofa.
“ehm rupanya kamu sudah bangun? Maaf aku tadi menemukanmu tergeletak di jalanan, kau tak sadarkan diri dan aku menolongmu kesini, ini rumahku” Katanya lirih sembari duduk di hadapannya.
“benarkah? Kalau begitu aku harus pulang ibu pasti sudah mencariku di rumah” Ariana tersentak bergegas membangkitkan tubuhnya dari sofa yang hangat itu.
“ehmm tunggu kau masih belum pulih, kalau boleh aku bertanya, aku bisa menawarimu tumpangan untuk mengantarmu ke rumah ibu mu, tenang saja aku tak akan mengganggumu” jelasnya sungkan
“tidak.. tidak.. aku sudah cukup merepotkanmu, aku harus pulang terimakasih atas pertolongannya, aku sungguh meminta maaf atas ulahku” ariana gugup
“tentu tidak kau tidak merepotkan, aku hanya khawatir bagaimana bisa seorang gadis berjalan sendiri di tengah dinginnya malam ini”
“ehmm...” Ariana terdiam sambil menundukkan kepalanya ia tak bisa berbicara apa-apa, hatinya masih kalut dan tak mungkin ia menceritakan masalahnya ini pada seorang laki-laki yang baru ia temui yang bahkan untuk namanya saja ia tidak tahu.
“oh iya maaf jika aku telah menyinggung perasaanmu, namaku Charlie” katanya memperkenalkan diri sembari menyulurkan tangannya.
“oh? Ehmm aku Ariana, charlie terima kasih atas tumpangannya malam ini”  Jawab Ariana lalu menengok jam tangan analog di tangan kirinya “oh tidak, sudah pukul 20.00, aku harus bergegas ibu pasti sudah mencariku, bolehkah kau mengizinkanku untuk pulang Charlie? Aku baik-baik saja kok” tambah Yuki.
“tidak Yuki, biar aku saja yang mengantarmu, tak baik seorang gadis berjalan sendiri di tengah malam yang buruk ini, kalau ada apa-apa siapa yang akan menolongmu?  Aku akan merasa sangat bersalah jika membiarkanmu sendiri, boleh aku mengantarmu?” tanyanya prihatin dengan suara yang memohon.
Ariana tersentak dengan perkataan laki-laki itu. Ia sungguh hangat, siapa dia? Siapa laki-laki ini? Apa aku pernah mengenalnya sebelum ini? Mengapa ia bisa perhatian sekali denganku?. Pertanyaaan pertanyaan itu seakan memenuhi kepalanya, rasa penasaran Yuki tak tertahankan. “hemm tapi Charlie terima kasih atas bantuannya, kita baru saja saling mengenal bagaimana bisa kau mau begitu banyak menolongku?” kata Yuki perlahan ia takut perkataannya itu menyinggung perasaan laki-laki yang telah banyak membantunya ini.
“hemm tidak Yuki aku hanya membawamu ke ruang tamu rumahku, tak banyak”
“itu sangat membantu Charlie, baiklah aku permisi pamit ya? Terima kasih banyak atas bantuannya Charlie, aku sungguh sangat berhutang budi padamu” ariana bergegas merapikan mantel merahnya dan beranjak dari sofa. Ia menundukkan kepala seperti apa yang biasa dilakukan orang jepang kemudian berpamitan pada Charlie.
“Tapi Ariana apa kau sudah baik-baik saja?” tanya Charlie khawatir
“tidak Charlie, rumahku di Cholorado st. Tak jauh dari sini kan?” ariana memastikan dan mengembangkan senyum manis dari bibir pink meronanya.
“hanya 5 menit berjalan kaki” jawab charlie lesu. Ia tampak khawatir pada gadis ini. Charlie memang sudah tahu bahwa Ariana adalah teman sesekolahnya tapi tak pernah sekelas, ia mengerti betul kalau Ariana adalah seorang yang pendiam, acuh dan setaunya ia tak pernah memperhatikan laki-laki di sekitarnya.
Tak lama kemudian Ariana akhirnya bergegas meninggalkan kediaman Charlie, berat memang untuk Charlie membiarkan gadis pujaaannya itu pergi sendiri di tengah dinginnya malam saat itu badai salju turun lebat namun apalah dayanya, ia tak mau membuat Ariana merasa cemas pada kehadirannya. Sosok gadis bermantel itu  akhirnya semakin menjauh tapi rasa khawatir pada hati charlie masih saja menghantui hingga akhirnya ia mengambil kunci mobilnya dan segera menyusul Ariana.
“ariana tunggu...” teriak seorang laki-laki di belakangnya.
Ariana pun menoleh tak berdaya, wajahnya sudah sangat pucat, rambutnya penuh dengan butiran salju. Tidak aku tidak bisa melihatnya seperti ini hati charlie seakan teriris melihat gadis itu menderita. Ia bergegas menghampiri Ariana mendekap tubuhnya “Ariana sungguh aku minta maaf ini satu-satunya hal yang harus aku lakukan sebelum mebiarkanmu semakin kedinginan maaf” kata Charlie lirih. Dan segera membopong gadis itu  kedalam mobil. Nampak jelas wajah dan tubuh Ariana sudah tak berdaya ia masih saja berusaha mengelak agar Charlie tidak melakukannya namun suaranya semakin lirih “Charlie, aku bisa kok” tambahnya. “ah kau sudah tak berdaya Ariana, jangan biarkan aku membiarkanmu mati kedinginan malam ini” Sahut Charlie khawatir.
Tak lama kedua pemuda ini sampai di kediaman Ariana. Terlihat seorang wanita sedang berdiri di balik jendela ruang tamu, Charliepun bergegas membawa Ariana yang tak sadarkan diri itu masuk ke rumahnya.
“Terima kasih ya nak telah mengantarkan Ariana ke rumah, kami sungguh berhutang budi padamu, tanpamu mungkin Ariana tak akan selamat” kata seorang wanita paruh baya yang berkulit putih, matanya agak sipit dengan rambut hitam sepundak yang terurai, ia  menyambutnya dengan hangat sambil meletakkan seduhan teh herbal di hadapan charlie. “silahkan diminum”
“iya terima kasih aunty jadi merepotkan, hmm tidak aunty, itu hanya kebetulan saja” jawab charlie terkekeh.
Pembicaraan dua orang itupun tak berlangsung lama, mengingat Ariana masih perlu beristiirahat di kamarnya, Charlie izin pulang.
****
Keesokan paginya Ariana terbangun,
Matanya terbuka melihat kearah jam dinding, “hemm pukul 06.00” merasa matanya masih berat untuk bangun ia meraih selimut dan menutupi seluruh tubuhnya. Dalam pikirannya bertanya-tanya apa ini hari minggu? Apa ini sudah weekend, ehmm kemarin.. kemarin kan hari Kamis, oh tidak tidak sekarang hari jum’at. “Oh my Godness astaga! Aku terlambat!” Ariana meloncat berdiri dan berlari ke lemari pakaiannya ia harus bersiap ke sekolah  hemm. Untung saja tak ada tugas hari ini. Ia berlari menuju kamar mandi.
“apa yang terjadi padaku semalam? Siapa sosok Charlie itu” dengan tangan menggenggam sikat gigi lalu menggosokkan sikat ke seluruh barisan giginya Ariana bertanya-tanya akan siapa sosok laki-laki yang telah membantunya semalam. “aku harus berterima kasih pada Charlie, iya!” Terpikir olehnya untuk kembali mendatangi kediaman Charlie, laki-laki yang telah menolongnya kemarin. Dan ia pun bergegas untuk menyudahi mandinya.
“Mom, kemarin apa yang Charlie bicarakan? Apa mom tau siapa dia sebenarnya?”  tanya Ariana sembari mencomot roti isi yang sudah disiapkan ibunya diatas meja makan.
“ehmm tidak nak, ia hanya duduk sebentar menjawab pertanyaan mom dan tak lama dia izin pulang, apa kau tidak mengenalnya?” tanya Ibu santai.
“tidak mom, bahkan aku baru saja bertemu dengannya semalam, namanya charlie, rumahnya di Colombia st. ” jawabku heran
“oh mom kira, dia adalah teman sekelasmu, sebaiknya kau datang ke rumahnya honey, bawakan beberapa makanan sebagai tanda terimakasih” saran Ibu sambil menyiapkan bekal makanan untuk ayah.
“ariana juga sudah berniat seperti itu mom, baiklah sepulang sekolah nanti aku izin ke rumah Charlie ya mom? Sepertinya badai salju tak akan turun lagi siang ini”
“Tiiin Tiiiin..”terdengar suara klakson kendaraan di luar rumah,  refleks Ariana melihat pergelangan tangan kirinya,  jam tangan sudah menunjukkan pukul 06.30  “Oh no.. bus sekolah sudah datang mom, aku berangkat dulu yah, oh iya nanti aku pulang telat byee mom, love you, muah” ucap Ariana sembari mencium pipi Ibunya.
 “iya hati-hati honey love you too” jawab Ibu.
****
“Aunty, Ryan, dan katy aku pamit, terima kasih atas tumpangannya selama ini kalian begitu baik padaku, sepulang sekolah nanti ayah langsung menjemputku dan membawaku ke rumahnya, sekali lagi terimakasih ya” ujar Charlie kepada saudara angkatnya itu.
“Charlie jangan pergi, kalau Charlie pergi siapa lagi yang akan mengajarkanku bermain Skateboard, siapa lagi yang akan melawanku bermain taekwondo, dan siapa lagi yang akan mengajakku nonton pertandingan baseball, kau tau sendiri kan Charlie katy tidak bisa apa-apa dia hanya bisa mengomel, hummm charlie..” ujar bocah 7 tahun ini dengan polosnya ia menangis tersedu mendengar Charlie yang biasa menjadi teman bermainnya akan pindah bersama orangtuanya di Inggris.
“Ryan, aku juga pasti akan merindukanmu, aku juga pasti akan sesekali berkunjung kesini, dan kita akan bermain lagi seperti yang biasa kita lakukan, kau jangan khawatir, okay dude?” jawab charlie sembari berlutut dan mengacak-acak rambut pirang Ryan, sepupunya itu. “Katy juga teman bermain yang baik, ya kan Kat?” tambahnya kemudian melirik ke arah Katy sambil mengangkat kedua alisnya, meyakinkan Ryan bahwa dia akan baik-baik saja walaupun Charlie sudah tidak di US lagi.
“iya sayang, kau pasti akan baik-baik saja Charlie pasti akan kembali lagi kesini menemuimu, aku janji tak akan mengomelimu lagi” sahut Katy  yang juga belutut menghadap Ryan.
“tidak, Katy jahat! Mom, aku mau ikut Charlie” ucap Ryan merengek memaksa mamanya untuk mengizinkan dia bersama Charlie. Ryan terus merengek dan menangis dalam gendongan mamanya, ia tak mau berpisah dengan Charlie. Tapi akhirnya Charlie bisa membujuk sepupu kesayangannya itu dan bersiap berangkat ke sekolah.
“bibi, nanti sebelum pulang sekolah akan ada Mr. Tom, anak buah ayah yang datang untuk membawa barang-barang yang sudah aku kemas di dalam kamar, mohon izinkan dia untuk masuk ke kamarku yah? Aku minta maaf karena selama ini aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian dan aku juga minta maaf karena tak bisa mampir lagi nanti siang, ayah menyuruhku untuk bergegas terbang ke Inggris” Ujar charlie yang tak ia sadari air mata dari kedua matanya mengalir perlahan dalam pelukan Aunt Carla, Ryan dan katy.
“apa yang harus dimaafkan Charlie, kau adalah keponakan yang paling aunt sayang, kau laki-laki yang hebat, bibi bangga padamu, sampaikan salam maaf bibi juga ya ke ayah karena telah mengambil anak laki-lakinya 2 tahun ini” kata bibi Carla mencairkan suasana. “tetep jadi Charlie yang hebat yah,bibi bangga padamu nak” tambah bibi Carla yang tak kuasa membendung air matanya.
“hemmm iya bi, terimakasih banyak telah merawatku dengan baik selama 2 tahun ini, kau sudah aku anggap ibuku sendiri, aku pasti akan sangat merindukan kalian” Jawab Charlie haru kemudian meraih pundak Katy, Aunt Carla dan Ryan.
Tak lama setelah keharuan itu berlangsung, mobil jemputan Charlie datang, dengan berat hati Charlie beranjak dari persinggahannya menuju teras rumah. Mengingat lokasi sekolah yang berjarak tak jauh dari bandara, maka ayahnya memerintahkan untuk langsung terbang ke Inggris sepulang sekolah.