Malam yang dingin
Jalan raya Washington nampak lengah malam itu,
Kendaraan-kendaraan yang biasanya berlalu lalang
seakan enggan melaju ditengah cuaca musim dingin yang membekukan itu,
Namun tidak dengan gadis manis ini, seorang gadis keturunan Jepang-Inggris,
berprawakan tinggi dengan rambut hitam, hidung mancung, tinggi dan mata
berwarna hazel namanya Ariana
Hiroyuki, ia berjalan menelusuri dinginnya musim dingin saat itu. Gadis
bermantel merah ini berjalan sendiri, dengan tangan mengepal yang tersembunyi
di balik saku mantel, berjalan seolah tanpa arah kemana ia akan pergi. Syaraf
di kaki seakan tak berfungsi oleh dinginnya malam itu. Sepatu, baju dan celana
yang berlapis-lapispun seakan tak berguna, dingin malam itu sungguh tak tertahankan. Tulangnya seakan
rapuh oleh dinginnya malam. Dadanya sesak, oksigen seakan enggan menghampiri
paru-parunya, tak tertahankan, kepalanyapun mulai berat saat ia memaksakan
langkah kakinya untuk terus maju, penglihatannya mulai gelap, gelap dan semakin
gelap. Hingga ia tak sadarkan diri.
****
Ariana mulai membuka matanya perlahan, kepalanya
masih terasa berat, ia berusaha untuk bangun tapi tak berdaya. Perlahan ia
sadar ia sedang berada di suatu tempat yang asing. Ruangan itu hangat, terlihat
cerobong asap dihadapannya, di sisi lain terdengar suara beberapa orang sedang
asyik berbicang hangat disana. Ia melihat disekelilingnya memastikan apa ia
benar-benar tidak mengenal tempat itu. Tidak,
aku tidak tahu tempat ini , ia memastikan sekali lagi tapi jawabannya tetap
tidak.
Tak lama seorang laki-laki bertubuh jangkung, dengan
rambut berwarna Golden Brown datang
menghampiri dirinya yang sedang berbaring di sebuah sofa di depan cerobong asap
dengan secangkir coklat hangat ditangannya, sadar bahwa seorang gadis yang
ditolongnya itu bangun, ia segera meletakkan cangkir itu di sebuah meja kayu
klasik dekat sofa.
“ehm rupanya kamu sudah bangun? Maaf aku tadi
menemukanmu tergeletak di jalanan, kau tak sadarkan diri dan aku menolongmu
kesini, ini rumahku” Katanya lirih sembari duduk di hadapannya.
“benarkah? Kalau begitu aku harus pulang ibu pasti
sudah mencariku di rumah” Ariana tersentak bergegas membangkitkan tubuhnya dari
sofa yang hangat itu.
“ehmm tunggu kau masih belum pulih, kalau boleh aku
bertanya, aku bisa menawarimu tumpangan untuk mengantarmu ke rumah ibu mu,
tenang saja aku tak akan mengganggumu” jelasnya sungkan
“tidak.. tidak.. aku sudah cukup merepotkanmu, aku
harus pulang terimakasih atas pertolongannya, aku sungguh meminta maaf atas
ulahku” ariana gugup
“tentu tidak kau tidak merepotkan, aku hanya
khawatir bagaimana bisa seorang gadis berjalan sendiri di tengah dinginnya
malam ini”
“ehmm...” Ariana terdiam sambil menundukkan
kepalanya ia tak bisa berbicara apa-apa, hatinya masih kalut dan tak mungkin ia
menceritakan masalahnya ini pada seorang laki-laki yang baru ia temui yang
bahkan untuk namanya saja ia tidak tahu.
“oh iya maaf jika aku telah menyinggung perasaanmu,
namaku Charlie” katanya memperkenalkan diri sembari menyulurkan tangannya.
“oh? Ehmm aku Ariana, charlie terima kasih atas
tumpangannya malam ini” Jawab Ariana
lalu menengok jam tangan analog di tangan kirinya “oh tidak, sudah pukul 20.00,
aku harus bergegas ibu pasti sudah mencariku, bolehkah kau mengizinkanku untuk
pulang Charlie? Aku baik-baik saja kok” tambah Yuki.
“tidak Yuki, biar aku saja yang mengantarmu, tak
baik seorang gadis berjalan sendiri di tengah malam yang buruk ini, kalau ada
apa-apa siapa yang akan menolongmu? Aku
akan merasa sangat bersalah jika membiarkanmu sendiri, boleh aku mengantarmu?”
tanyanya prihatin dengan suara yang memohon.
Ariana tersentak dengan perkataan laki-laki itu. Ia
sungguh hangat, siapa dia? Siapa
laki-laki ini? Apa aku pernah mengenalnya sebelum ini? Mengapa ia bisa
perhatian sekali denganku?. Pertanyaaan pertanyaan itu seakan memenuhi
kepalanya, rasa penasaran Yuki tak tertahankan. “hemm tapi Charlie terima kasih
atas bantuannya, kita baru saja saling mengenal bagaimana bisa kau mau begitu
banyak menolongku?” kata Yuki perlahan ia takut perkataannya itu menyinggung
perasaan laki-laki yang telah banyak membantunya ini.
“hemm tidak Yuki aku hanya membawamu ke ruang tamu
rumahku, tak banyak”
“itu sangat membantu Charlie, baiklah aku permisi pamit
ya? Terima kasih banyak atas bantuannya Charlie, aku sungguh sangat berhutang
budi padamu” ariana bergegas merapikan mantel merahnya dan beranjak dari sofa.
Ia menundukkan kepala seperti apa yang biasa dilakukan orang jepang kemudian
berpamitan pada Charlie.
“Tapi Ariana apa kau sudah baik-baik saja?” tanya
Charlie khawatir
“tidak Charlie, rumahku di Cholorado st. Tak jauh dari sini kan?” ariana memastikan dan
mengembangkan senyum manis dari bibir pink meronanya.
“hanya 5 menit berjalan kaki” jawab charlie lesu. Ia
tampak khawatir pada gadis ini. Charlie memang sudah tahu bahwa Ariana adalah
teman sesekolahnya tapi tak pernah sekelas, ia mengerti betul kalau Ariana
adalah seorang yang pendiam, acuh dan setaunya ia tak pernah memperhatikan
laki-laki di sekitarnya.
Tak lama kemudian Ariana akhirnya bergegas
meninggalkan kediaman Charlie, berat memang untuk Charlie membiarkan gadis
pujaaannya itu pergi sendiri di tengah dinginnya malam saat itu badai salju
turun lebat namun apalah dayanya, ia tak mau membuat Ariana merasa cemas pada
kehadirannya. Sosok gadis bermantel itu
akhirnya semakin menjauh tapi rasa khawatir pada hati charlie masih saja
menghantui hingga akhirnya ia mengambil kunci mobilnya dan segera menyusul Ariana.
“ariana tunggu...” teriak seorang laki-laki di
belakangnya.
Ariana pun menoleh tak berdaya, wajahnya sudah
sangat pucat, rambutnya penuh dengan butiran salju. Tidak aku tidak bisa melihatnya seperti ini hati charlie seakan teriris
melihat gadis itu menderita. Ia bergegas menghampiri Ariana mendekap tubuhnya
“Ariana sungguh aku minta maaf ini satu-satunya hal yang harus aku lakukan
sebelum mebiarkanmu semakin kedinginan maaf” kata Charlie lirih. Dan segera
membopong gadis itu kedalam mobil.
Nampak jelas wajah dan tubuh Ariana sudah tak berdaya ia masih saja berusaha
mengelak agar Charlie tidak melakukannya namun suaranya semakin lirih “Charlie,
aku bisa kok” tambahnya. “ah kau sudah tak berdaya Ariana, jangan biarkan aku
membiarkanmu mati kedinginan malam ini” Sahut Charlie khawatir.
Tak lama kedua pemuda ini sampai di kediaman Ariana.
Terlihat seorang wanita sedang berdiri di balik jendela ruang tamu, Charliepun
bergegas membawa Ariana yang tak sadarkan diri itu masuk ke rumahnya.
“Terima kasih ya nak telah mengantarkan Ariana ke
rumah, kami sungguh berhutang budi padamu, tanpamu mungkin Ariana tak akan
selamat” kata seorang wanita paruh baya yang berkulit putih, matanya agak sipit
dengan rambut hitam sepundak yang terurai, ia
menyambutnya dengan hangat sambil meletakkan seduhan teh herbal di
hadapan charlie. “silahkan diminum”
“iya terima kasih aunty jadi merepotkan, hmm tidak aunty,
itu hanya kebetulan saja” jawab charlie terkekeh.
Pembicaraan dua orang itupun tak berlangsung lama,
mengingat Ariana masih perlu beristiirahat di kamarnya, Charlie izin pulang.
****
Keesokan paginya Ariana terbangun,
Matanya terbuka melihat kearah jam dinding, “hemm
pukul 06.00” merasa matanya masih berat untuk bangun ia meraih selimut dan
menutupi seluruh tubuhnya. Dalam pikirannya bertanya-tanya apa ini hari minggu?
Apa ini sudah weekend, ehmm kemarin.. kemarin kan hari Kamis, oh tidak tidak
sekarang hari jum’at. “Oh my Godness astaga! Aku terlambat!” Ariana meloncat
berdiri dan berlari ke lemari pakaiannya ia harus bersiap ke sekolah hemm. Untung saja tak ada tugas hari ini. Ia
berlari menuju kamar mandi.
“apa yang terjadi padaku semalam? Siapa sosok
Charlie itu” dengan tangan menggenggam sikat gigi lalu menggosokkan sikat ke
seluruh barisan giginya Ariana bertanya-tanya akan siapa sosok laki-laki yang
telah membantunya semalam. “aku harus berterima kasih pada Charlie, iya!”
Terpikir olehnya untuk kembali mendatangi kediaman Charlie, laki-laki yang
telah menolongnya kemarin. Dan ia pun bergegas untuk menyudahi mandinya.
“Mom, kemarin apa yang Charlie bicarakan? Apa mom
tau siapa dia sebenarnya?” tanya Ariana
sembari mencomot roti isi yang sudah disiapkan ibunya diatas meja makan.
“ehmm tidak nak, ia hanya duduk sebentar menjawab
pertanyaan mom dan tak lama dia izin pulang, apa kau tidak mengenalnya?” tanya
Ibu santai.
“tidak mom, bahkan aku baru saja bertemu dengannya
semalam, namanya charlie, rumahnya di Colombia
st. ” jawabku heran
“oh mom kira, dia adalah teman sekelasmu, sebaiknya kau
datang ke rumahnya honey, bawakan beberapa makanan sebagai tanda terimakasih”
saran Ibu sambil menyiapkan bekal makanan untuk ayah.
“ariana juga sudah berniat seperti itu mom, baiklah
sepulang sekolah nanti aku izin ke rumah Charlie ya mom? Sepertinya badai salju
tak akan turun lagi siang ini”
“Tiiin Tiiiin..”terdengar suara klakson kendaraan di
luar rumah, refleks Ariana melihat pergelangan
tangan kirinya, jam tangan sudah
menunjukkan pukul 06.30 “Oh no.. bus
sekolah sudah datang mom, aku berangkat dulu yah, oh iya nanti aku pulang telat
byee mom, love you, muah” ucap Ariana sembari mencium pipi Ibunya.
“iya
hati-hati honey love you too” jawab Ibu.
****
“Aunty, Ryan, dan katy aku pamit, terima kasih atas
tumpangannya selama ini kalian begitu baik padaku, sepulang sekolah nanti ayah
langsung menjemputku dan membawaku ke rumahnya, sekali lagi terimakasih ya”
ujar Charlie kepada saudara angkatnya itu.
“Charlie jangan pergi, kalau Charlie pergi siapa
lagi yang akan mengajarkanku bermain Skateboard, siapa lagi yang akan melawanku
bermain taekwondo, dan siapa lagi yang akan mengajakku nonton pertandingan
baseball, kau tau sendiri kan Charlie katy tidak bisa apa-apa dia hanya bisa
mengomel, hummm charlie..” ujar bocah 7 tahun ini dengan polosnya ia menangis
tersedu mendengar Charlie yang biasa menjadi teman bermainnya akan pindah
bersama orangtuanya di Inggris.
“Ryan, aku juga pasti akan merindukanmu, aku juga
pasti akan sesekali berkunjung kesini, dan kita akan bermain lagi seperti yang
biasa kita lakukan, kau jangan khawatir, okay dude?” jawab charlie sembari
berlutut dan mengacak-acak rambut pirang Ryan, sepupunya itu. “Katy juga teman
bermain yang baik, ya kan Kat?” tambahnya kemudian melirik ke arah Katy sambil
mengangkat kedua alisnya, meyakinkan Ryan bahwa dia akan baik-baik saja
walaupun Charlie sudah tidak di US lagi.
“iya sayang, kau pasti akan baik-baik saja Charlie
pasti akan kembali lagi kesini menemuimu, aku janji tak akan mengomelimu lagi”
sahut Katy yang juga belutut menghadap
Ryan.
“tidak, Katy jahat! Mom, aku mau ikut Charlie” ucap
Ryan merengek memaksa mamanya untuk mengizinkan dia bersama Charlie. Ryan terus
merengek dan menangis dalam gendongan mamanya, ia tak mau berpisah dengan
Charlie. Tapi akhirnya Charlie bisa membujuk sepupu kesayangannya itu dan
bersiap berangkat ke sekolah.
“bibi, nanti sebelum pulang sekolah akan ada Mr.
Tom, anak buah ayah yang datang untuk membawa barang-barang yang sudah aku
kemas di dalam kamar, mohon izinkan dia untuk masuk ke kamarku yah? Aku minta maaf
karena selama ini aku sudah terlalu banyak merepotkan kalian dan aku juga minta
maaf karena tak bisa mampir lagi nanti siang, ayah menyuruhku untuk bergegas
terbang ke Inggris” Ujar charlie yang tak ia sadari air mata dari kedua matanya
mengalir perlahan dalam pelukan Aunt Carla, Ryan dan katy.
“apa yang harus dimaafkan Charlie, kau adalah
keponakan yang paling aunt sayang, kau laki-laki yang hebat, bibi bangga
padamu, sampaikan salam maaf bibi juga ya ke ayah karena telah mengambil anak
laki-lakinya 2 tahun ini” kata bibi Carla mencairkan suasana. “tetep jadi
Charlie yang hebat yah,bibi bangga padamu nak” tambah bibi Carla yang tak kuasa
membendung air matanya.
“hemmm iya bi, terimakasih banyak telah merawatku
dengan baik selama 2 tahun ini, kau sudah aku anggap ibuku sendiri, aku pasti
akan sangat merindukan kalian” Jawab Charlie haru kemudian meraih pundak Katy,
Aunt Carla dan Ryan.
Tak lama setelah
keharuan itu berlangsung, mobil jemputan Charlie datang, dengan berat hati
Charlie beranjak dari persinggahannya menuju teras rumah. Mengingat lokasi
sekolah yang berjarak tak jauh dari bandara, maka ayahnya memerintahkan untuk
langsung terbang ke Inggris sepulang sekolah.